Jk Merapat ke SBY Lagi?

EMPAT larik pesan terlihat di keranjang kirim telepon seluler Alwi Hamu. Di nomor tujuan tertulis Mukhlis Hasyim, staf penghubung media Kantor Wakil Presiden. Isinya, teguran staf khusus Wakil Presiden itu kepada Mukhlis, yang ditudingnya telah menyebarkan informasi hubungan telepon Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla dengan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

Setelah salat Jumat pekan lalu, Jusuf Kalla menelepon Yudhoyono buat mengucapkan selamat atas perolehan suara Partai Demokrat yang diperkirakan melonjak tiga kali lipat dibandingkan 2004. Kepada pers, Yudhoyono mengatakan kaget karena wartawan mengetahui pembicaraan telepon yang baru selesai dilakukannya.

Pesan pendek Alwi juga berisi imbauan agar semua orang di sekeliling Jusuf Kalla tiarap. Ia juga mengirim pesan ini ke sejumlah koleganya, sesama orang dekat Jusuf. Alwi menganggap Mukhlis tidak perlu mengumbar informasi pembicaraan telepon itu ke media massa. ”Saya peringatkan dia,” katanya di kantor Lembang Sembilan, lembaga pemenangan Jusuf Kalla, Jumat petang pekan lalu.

Mukhlis menyatakan tidak menerima teguran dari Alwi. Menurut dia, Jusuf Kalla pun tidak mempersoalkan perihal hubungan telepon dua petinggi negara yang bocor itu. ”Pak JK ketemu saya biasa-biasa saja,” katanya.

Alwi menilai tersiarnya berita itu tidak strategis buat Jusuf Kalla. Sebab, inilah saatnya bagi Kalla untuk memperbaiki kembali hubungannya dengan Yudhoyono. Alwi takut berita itu justru membuat Yudhoyono tidak nyaman. Ibarat rumah tangga, kata Alwi, pasangan SBY-JK sempat renggang bahkan hampir cerai akibat bersaing berebut suara dalam pemilihan umum legislatif. Untuk bisa mesra kembali, katanya, perlu pendekatan yang baik dan santun. ”Suami-istri Yudhoyono-Kalla,” kata Alwi, ”ingin rujuk demi masa depan anak-anak, yakni rakyat Indonesia.”

Sumber Tempo menyatakan, turunnya suara Golkar dalam pemilu kali ini membuat Jusuf Kalla berpikir seribu kali untuk cerai dengan Yudhoyono. Sejumlah survei menyebut, Golkar mendapat sekitar 14 persen, tersalip Partai Demokrat dengan 20 persen suara. Dalam pemilu lima tahun lalu, suara Golkar 22 persen dan Demokrat cuma 7,5 persen.

Kekalahan Golkar ini, kata sumber itu, membuat Jusuf Kalla mau tak mau harus kembali kepada Yudhoyono. Jika tidak, karier politiknya tamat. Sejumlah survei menyebutkan, jika Yudhoyono tetap berpasangan dengan Kalla, pemilihan presiden diprediksi berlangsung satu putaran. Sesuai dengan slogan kampanyenya, ”Lebih Cepat Lebih Baik”, Jusuf pun buru-buru balik arah.

Bandul politik Jusuf Kalla menjelang pemilu lalu memang sempat menjauh dari Yudhoyono. Waktu itu Kalla punya pilihan lain: menggandeng PDI Perjuangan.

Jabat tangan Beringin-Banteng ini disponsori oleh Ketua Dewan Penasihat Surya Paloh. Skenarionya: jika suara Golkar unggul dari PDI Perjuangan, Beringin berhak atas posisi calon presiden, dan Banteng Moncong Putih kebagian calon wakil presiden. Begitu juga sebaliknya.

Opsi lain: memajukan Jusuf Kalla sebagai calon presiden. Calon wakilnya, sempat disebut-sebut, adalah mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia Endriartono Sutarto atau mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso.

Tapi Alwi Hamu menyatakan desakan untuk meninggalkan dua opsi tadi sangat kuat—meski keputusan akhir akan ditentukan dalam Rapat Pimpinan Khusus Partai Golkar pekan depan. ”Saya berharap SBY-JK berlanjut,” kata Alwi. Soalnya, kalau masing-masing mencalonkan diri, siapa pun yang jadi presiden, ”Pada tahun ketiga pemerintahan wakil presidennya akan sibuk kampanye untuk jadi presiden.”

Yudhoyono tidak menutup kemungkinan berpasangan kembali dengan Jusuf Kalla. Dalam konferensi pers Jumat pekan lalu di kediamannya di Cikeas, Yudhoyono menyebut Kalla sebagai sahabat lama. Tapi pembicaraan tentang koalisi politik, menurut dia, belum dilakukan. ”Mari melanjutkan komunikasi ke depan dalam format yang telah disepakati,” kata Yudhoyono.

Yudhoyono juga melontarkan keinginan untuk mengulang koalisi politik lima tahun lalu. Ia menyebut telah melakukan pertemuan dengan petinggi Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Keadilan Sejahtera. Selain itu, partai Demokrat sudah berkomunikasi dengan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, Partai Pelopor, dan Partai Demokrasi Pembaruan.

Sejumlah petinggi partai mengaku telah bertemu dengan petinggi Partai Demokrat. Presiden Partai Keadilan Sejahtera Tifatul Sembiring terang-terangan mengaku ingin berkoalisi dengan Demokrat mendukung Yudhoyono. ”Semua menunggu Majelis Syura, tapi hampir pasti ke SBY,” kata Tifatul.

l l lMONCER di Cikeas, redup di kandang Banteng. Survei sejumlah lembaga menyebutkan, perolehan suara PDI Perjuangan pada kisaran hampir 15 persen. Lima tahun lalu, partai ini mengumpulan 18,53 persen.

Sumber Tempo mengatakan, hasil ini membuat PDI Perjuangan ragu-ragu menjagokan Megawati sebagai calon presiden. Sebab, Megawati hanya bersedia bertanding dengan Yudhoyono jika ia berpeluang menang. Ia tidak ingin mengulang dua kali kegagalan. Lima tahun lalu, Mega yang presiden incumbent dikalahkan Yudhoyono. Sebelumnya, pada 1999, Abdurrahman Wahid menundukkannya dalam pemilihan presiden di Majelis Permusyawaratan Rakyat.

PDI Perjuangan, kata sumber itu, sedang mencari pengganti Megawati. Nama Sultan Hamengku Buwono X muncul dalam daftar. Orang dekat Sultan, Muslim Abdurrahman, menyatakan bosnya siap maju. ”Sultan figur karismatis dan saya yakin mampu,” katanya. Ada juga yang berusaha memasukkan nama Prabowo dan Puan Maharani, putri Mega.

Namun Ketua Badan Pemenangan Pemilu Tjahjo Kumolo membantah Megawati lempar handuk. Ia memastikan, ”Kami masih pada plan A: calon presiden tetap Megawati.”

Tjahjo mengatakan sejumlah survei menyebut calon presiden yang bakal bertarung adalah Megawati versus Yudhoyono. Itulah sebabnya, tidak ada alasan tak mencalonkan putri Soekarno itu.

Calon wakil presidennya, kata dia, bisa Prabowo, Wiranto, atau yang lain. Jumat malam pekan lalu, Wiranto memang telah bertemu Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Tapi Wiranto terkesan malu-malu. ”Koalisi kami bicarakan setelah penghitungan selesai,” katanya.

Tjahjo yakin, Prabowo dan Wiranto bersedia bergabung dalam koalisi dengan PDI Perjuangan. ”Gerindra dan Hanura pasti ke Megawati. Tidak mungkin Prabowo dan Wiranto ke Yudhoyono,” katanya. Prabowo pun siap bergandeng tangan dengan Megawati. ”PDI Perjuangan paling punya kesamaan nilai dengan kami,” katanya.

Yang kini terancam rontok justru embrio koalisi PDI Perjuangan dengan Golkar. Tjahjo Kumolo mengakui, partainya tetap ingin Beringin-Banteng bergandeng tangan. Tapi, kata Tjahjo, Golkar belum menentukan sikap. ”Masih alot,” katanya.[mt]

Tinggalkan Balasan