Kekerasan Di Sekolah Tak pernah Usai

KASUS kekerasan di lingkungan sekolah sampai saat ini belum bisa ditangani optimal, karena sebagian besar korban lebih memilih untuk diam dengan berbagai macam alasan. Termasuk takut ancaman dari pelaku. Akibatnya tidak sedikit di antara mereka jadi enggan masuk sekolah, karena khawatir kasus serupa akan terulang lagi.
Ade, salah seorang siswa SMA swasta di Yogya mengaku sudah beberapa kali dipukuli oleh teman satu sekolah. Peristiwa itu biasanya bermula dari hal-hal sepele seperti memanggil dengan nama yang kurang baik. Kendati sudah beberapa kali dipukuli sampai memar, bungsu dari 2 bersaudara itu lebih memilih diam dan tidak melaporkan pada kepala sekolah atau guru bimbingan konseling (BK). Soalnya, jika dirinya sampai melapor, bukan solusi yang didapat tapi justru akan dipukuli oleh pelaku.
“Saat di depan kepala sekolah atau guru BK, biasanya pelaku akan minta maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Tapi bukan berarti masalahnya langsung selesai, karena di luar sekolah saya dihadang dan dipukuli lagi. Karena takut akan mengalami kekerasan serupa saya lebih memilih diam,” ungkapnya pasrah.
Kasus serupa juga dialami salah seorang siswi SMA swasta yang enggan disebut namanya. Kasus kekerasan yang dilakukan oleh teman perempuannya itu bermula dari pertengkaran yang membawa nama orangtua. Karena merasa orangtuanya dihina yang bersangkutan merasa tidak terima dan langsung menjambak rambut.
“Sebenarnya kami sudah lama berselisih paham, akibatnya hal-hal sepele saja bisa berantem. Tapi saya tak pernah menyangka dia akan menjambak rambut saya. Karena jengkel dan sakit, saya langsung lapor sama guru BK,” katanya.
Tak Jera
Meski sudah mendapat teguran dari sekolah, tapi bukan berarti pelaku langsung jera. Sebaliknya justru semakin sering melakukan tindakan serupa pada beberapa teman yang lain. Kondisi tersebut selain menimbulkan keresahan di kalangan siswa, juga mengganggu konsentrasi belajar. Sayangnya kasus kekerasan itu tidak bisa terungkap tuntas, karena beberapa korban lebih memilih untuk diam.
“Berdasarkan informasi yang saya peroleh, pelaku sering melakukan tindakan kekerasan pada teman satu sekolah, karena di rumah juga mengalami hal serupa dari orangtua,” ujarnya.
Guru BK dan Budi Pekerti Taman Madya Pawiyatan Sri Sukamti mengatakan, sesuai dengan ajaran dari Ki Hajar Dewantara, pihaknya akan selalu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik bagi peserta didik. Dalam hal ini yang dimaksud dengan pelayanan tidak hanya terkait dengan kegiatan akademik tapi juga akhlak dan budi pekerti. Meskipun untuk mewujudkan itu tidaklah mudah.
“Biasanya untuk mengetahui persoalan yang sedang dihadapi oleh peserta didik, guru tidak hanya melakukan pendekatan individu. Tapi dengan memposisikan diri sebagai orangtua atau sahabat. Lewat pendekatan tersebut biasanya siswa akan lebih terbuka dengan persoalan yang dihadapi,” katanya seraya menambahkan, untuk mengoptimalkan pelayanan pihaknya siap melayani konsultasi selama 24 jam baik lewat telepon atau ketemu langsung.
Menurutnya, untuk mengantisipasi terjadinya kasus kekerasan di lingkungan sekolah, pihaknya sengaja membuat tata tertib yang harus ditandatangani siswa saat pertama kali masuk. Lewat tata tertib tersebut diharapkan siswa bisa mengetahui sanksi yang akan diterima jika melakukan pelanggaran di sekolah. Tentunya semua itu akan bisa optimal jika ada sinergitas dari orangtua dan pihak terkait.
Hal itu penting karena ada beberapa anak yang mengalami persoalan di rumah tapi tidak bisa terbuka dengan orangtua. Sebaliknya melampiaskan kekecewaan mereka saat berada di sekolah.
“Memang di sekolah kami ada 1 atau 2 anak sempat ribut dengan teman, tapi langsung bisa kami atasi jadi tidak sampai berlarut-larut. Biasanya selain sanksi teguran dan pembinaan pelaku juga kami wajibkan membuat surat pernyataan,” terangnya.
Hasil penelitian dosen Fakultas Psikologi Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa (UST) Dra Siti Hafsah Budi Argiati SPsi MSi setidaknya menunjukkan bahwa tindakan bullying itu juga menggejala di Kota Yogya, bahkan kebanyakan terjadi di sekolah.
Dari 113 siswa SMA dari dua sekolah (negeri dan swasta), 78 siswa atau 69,3 persen mengaku pernah mendapatkan bullying. Kekerasan itu terjadi di sekolah, tempat bermain maupun di rumah. Pelakunya teman sekolah (71,68 persen), guru (19,47 persen), orangtua (17,69 persen).
Siti Hafsah menyatakan, ide untuk melakukan penelitian itu muncul karena banyak klien yang mendapatkan kekerasan saat berada di sekolah. Kekerasan yang mereka alami, sebagian besar disebabkan oleh tindakan teman sendiri. Karena sering mengalami tindakan kekerasan dan takut untuk melapor akhirnya mereka lebih memilih tidak masuk sekolah. Ironisnya, tindakan kekerasan yang sudah beberapa kali terjadi itu tidak hanya dialami oleh satu atau dua siswa.
“Berdasarkan penelitian yang saya lakukan di 2 sekolah lebih dari 60 persen anak pernah mengalami tindakan kekerasan baik yang dilakukan oleh guru, teman atau orangtua. Sayangnya banyak korban yang mengalami kekerasan takut melapor. Jadi peristiwa itu baru terungkap setelah orangtua melaporkan ke sekolah,” kata dosen UST yang juga psikolog ini.
Psikolog dari UST yang aktif dalam sejumlah kegiatan sosial ini mengatakan, lewat kegiatan penelitian tersebut pihaknya berharap bisa memotivasi sekolah khususnya guru agar tidak hanya berpikir tentang aspek kognitif tapi juga kecerdasan emosional. Soalnya tanpa diimbangi dengan kecerdasan emosional, kemampuan akademik yang dimiliki tidak akan banyak berarti. Guna mewujudkan hal itu saat ini pihaknya sedang berusaha untuk menggandeng guru bimbingan konseling se-Yogyakarta untuk terlibat dalam membahas persoalan ini. “Saya berharap dengan banyaknya masukan dari guru BK, persoalan kekerasan di lingkungan sekolah bisa ditekan,” ujarnya.
Menurutnya, di era globalisasi seperti sekarang masih banyak sekolah yang mengedepankan aspek kognitif, sementara untuk psikomotorik masih kurang. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya sekolah yang lebih memprioritaskan materi untuk ujian nasional daripada kecerdasan emosional yang di dalamnya termasuk aspek religius.
Padahal untuk mewujudkan kecintaan pada sesama cukup mudah dan bisa dilakukan dari hal-hal sederhana. Seperti mengajak siswa terjun langsung di lapangan dan terlibat aktif dalam kegiatan sosi

Tinggalkan Balasan